Postingan

Kosong

Berjalan melewati seribu bunga berdaun kaca, Aku termenung menatapi kilauan dunia, Tergores serpihan kelopak bunga yang kuambil, di malam seribu malam Yang menggoresku tanpa isyarat, Aku merintih bagai keledai, kelelahan di padang pasir, Dan terus terulang seperti Andromeda, tertelan loophole jagat raya, Taukah kau, Segores luka bisa mati rasa, Ketika menggoresnya di tempat yang sama, Hingga rintihan anak tertelan derita, tak lagi menggetarkan jiwa. Aku berjalan diantara kebisuan, kegelapan, Tak merasa dingin atau panas, Hanya merasa letih untuk teriak dalam kebisuan Beranjak tak bisa berlari, Berontak tak bisa menghancurkan, Diam malah makin mencekam, Berbisik pada penguasa cahaya pun tak didengar, Lalu sayap-sayapku menghilang Menjadi titik hitam ditengah luasnya kertas putih, Aku menjadi noda yang ditorehkan penjaga takdir, Pada ketidakadaan yang diadakan, Pada keadaan yang harus ditiadakan, Aku masih berontak, Karna kosong.. Menerpaku dikala Kosong......

Hidup?

Dalam megahnya hamparan hijau, aku, musafir diantara para dermawan berjalan sendu, heran dengan tempat yang ku pijak ini, aku bertanya pada pria kecil, iya lusuh, terduduk di pinggiran sungai. "Ini tempat apa?"  Dia menoleh padaku dengan tatapan tajam, seperti elang melihat mangsa di padang pasir, ia berteriak dengan jawabannya yang menggetarkan hati, "ini neraka, tempat dimana orang sepertiku tersiksa, tempat dimana orang sepertiku melahap kesedihan, kepedihan dari dunia tanpa bisa berbuat apa-apa". Aku berlalu, meninggalkan pria itu dengan hati berdebar dan bertanya-tanya, mengapa ia segusar itu sampai-sampai kegusaran di matanya bisa meruntuhkan pondasi raja-raja timur tengah. Aku berjalan melewati tempat kumuh lalu tiba di tempat yang begitu indah, pohon-pohon tumbuh dengan rapi, rumah-rumah megah berjajar, kendaraan beroda empat menghiasi taman-tamannya, aku berkata pada diriku sendiri "apakah ini tempat sang raja?" Kemudian aku bert...