Postingan

Rigor Mortis

Tetesan darah mengalir diantara sendi-sendi detik yang berlalu,  Mengantarku kedalam lautan, Dalamnya lautan eksistensi dan ketiadaan. Ku berusaha menggapai tanganmu, Tuk keluar dari dinginnya lautan ini, Ketika nafas sudah tidak bersahabat Dan eksistensiku melebur perlahan bersama gelap. Dalam dua kali dentingan jam tua di sudut jalan, Aku terbaring antara bahagia dan penyesalan Menyesal telah masuk dalam duniamu, Dimana kau tak bisa lepas dari syair-syair masa lalu. Dalam detik kau baca tulisan ini, Nadi-nadi ku semakin kaku, Hatiku pun mati tertelan bumi, Rigor mortis, mereka bilang.

Karnamu

Kau tau, pernah kutempatkan seluruh nafas dari rongga hidup haya untuk melihatmu tersenyum di kala senja. Kau tau, pernah kubiarkan diriku kelaparan hanya untuk melihatmu meminum anggur termanis di dunia.  Kau tau, sakitnya memberi kesempatan itu, seperti menelan luka dikerongkongan yang kering, dan menganggap semua itu hanya semilir angin masa lalu. Kemudian kau hancurkan setiap pondasi yang kubangun di tengah-tengah jiwaku yang rapuh. Dan ketika aku beranjak, dengan mudahnya kau berkata "sungguh dia telah bahagia meskipun bukan denganku". Apa hakmu berucap?, apa hakmu menghakimi jiwa rapuhku yang kususun dari kehancuran, yang kususun agar bisa menjauhkanku dari dinginnya hujan musim dingin, dan kesendirian yang tak berujung. Apa yang kau tau soal bahagia?, padahal kebahagiaanku kau hancurkan tanpa tersisa. Apa yang kau tau soal menghargai?, kau tak sekalipun menghargai usahaku untuk mencintai segala kekuranganmu. Apa yang kau tau soal hidup?, padaha...

Suara Jiwa

Sore ini aku beranjak dari kota, dalam hiruk pikuk para pekerja, pelajar, beberapa anak kecil juga orangtua, aku duduk tersudut tak jauh dari pintu kereta, yang masih menjerit kelelahan karena seharian telah berlarian membawa takdir, menunggu berjalannya waktu, merasuk ke dunia mimpi dan kenyataan. Kereta membawaku dengan langkahnya yang gontai, dalam irama decitan roda besi terguyur hujan sore hari, dalam hening, jiwa-jiwa itu terduduk letih, aku terdiam dalam sunyi yang mengurung kesunyian lain di dalamnya, sejenak aku berfikir, bagaimana bisa mereka tak menyadari jiwanya telah ditelanjangi waktu dan keadaan, kehidupannya terlihat dibalik mata sayu dan wajah kantuk, terduduk dalam keheningan. Dalam hening, ku melihat opera dari kelamnya dunia, saat manusia terikat belenggu takdir, kewajiban dan tanggung jawab, tak sedikitpun senyum terpancar dari jiwa-jiwa malang itu, ku berkata pada diriku sendiri, "apa hanya aku yang mengerti jiwa-jiwa malang itu?, atau hanya imajinasiku ...

Penyair dan Dewa - Dewa

 Akulah sang penyair dari desa kecil yang berjalan gontai bersama ilalang dari negri nan jauh. Aku mencari bahasa-bahasa yang diucapkan apollo pada langit dan asklepios anaknya, mengobati jiwa-jiwa merana penuh luka dalam rimbunnya pohon oak tua, tersinari keagungan apollo di langit nan luas. Aku berjalan dan berlari dari mimpi buruk yang dibawa hades padaku di malam dikala bintang bersembunyi dibalik cakrawala, enggan menampakan diri karena hades sedang berdiri diatas bumi, dengan bayang-bayang hellhound disampingnya, terjerat rantai gerbang dunia bawah. Dalam mimpiku hades berkata dengan gemuruh membelah langit, "Aku akan menghapus manusia dalam dirimu, memberimu amarah, nafsu, kebencian, kesedihan dan kematian, agar kau menjadi miliku, akan kuseret kau ke dalam tartarus, agar kau tidak bisa melihat cahaya apollo". Dengan ketakutan yang merasuk nadi dalam tubuhku, aku berlari menghampiri hermes, memintanya membuatkan harpa untuk apollo, agar suara...

Perempuan itu

Dia, manusia, anak adam dari hawa yang Indah tak berbanding, Kau duduk di pangkuannya, berbicara dan bercanda, Mengerti apa arti dunia, hanya dengan sentuhan lembutnya, Ingatkah?, Saat kau menangis, dia beranjak dari mimpi-mimpi masa mudanya, Mencurahkan kehangatan ke setiap ujung kulit yang tuhan berikan, Memancarkan keindahan tak berujung meski termakan usia, Sadarkah kau, Hidupmu tak berarti jika ia menangis, Saat kau bertingkah layaknya oranglain yang tak mengenalnya, Ia, dia menangis di sudut itu, Menangisimu dengan ratapan yang menggetarkan surga, Menggemparkan neraka, Perempuan itu, iya perempuan itu..

Suara-suara

Apa yang kau dengar saat tertidur di buaian, Bisikian?, atau teriakan.. Gelombang yang bergetar itu masih seperti dulu adanya, Ketika adam dan hawa turun ke bumi, menjelajahi ciptaan Nya, Tapi waktu tak merubah getaran itu, Alunan musik sang pengelana dari barat, Dari timur, dan dari segala penjuru, Memenuhi bumi dengan getaran-getaran, Tapi getaran ini lebih tak pernah kalah, getaran ini.. Menggetarkan hati, Menggerakan airmata , Suara-suara itu, suara yang di dengar di segala penjuru dunia, Mengisyaratkan lima waktu berharga dari para pendoa bijaksana, Berlutut diantara langit dan bumi, Mencari keagungan tuhan dan utusannya.

La Beribarat Ki

La.. Lautan dimana seseorang dengan kisaran begitu besar Ki.. Kiasan dari dominasi dunia bertanggung bergelora La.. Bukan untaian dari alfabeth yang bermakna kosong Ki.. Tapi kitab dari pondasi kelompok-kelompok berkuasa La....         Ki...                La..                       Ki.. Bergema menghantam karang dari buih sampai debu Berujung tanggungan tanpa henti berakar pasti La..       Ki..             La..                    Ki.. Jangan remehkan setetes keringat dari sang pengembara Bak tembok cina membentang tak terhapus masa La beribarat Ki Memang tak berarti Tapi berkuasa tanpa disadari Lagukan melodi maestro, Kiasan zeus gagah berwibawa La..       Ki..             La..       ...