Rigor Mortis
Tetesan darah mengalir diantara sendi-sendi detik yang berlalu, Mengantarku kedalam lautan, Dalamnya lautan eksistensi dan ketiadaan. Ku berusaha menggapai tanganmu, Tuk keluar dari dinginnya lautan ini, Ketika nafas sudah tidak bersahabat Dan eksistensiku melebur perlahan bersama gelap. Dalam dua kali dentingan jam tua di sudut jalan, Aku terbaring antara bahagia dan penyesalan Menyesal telah masuk dalam duniamu, Dimana kau tak bisa lepas dari syair-syair masa lalu. Dalam detik kau baca tulisan ini, Nadi-nadi ku semakin kaku, Hatiku pun mati tertelan bumi, Rigor mortis, mereka bilang.