Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Perempuan itu

Dia, manusia, anak adam dari hawa yang Indah tak berbanding, Kau duduk di pangkuannya, berbicara dan bercanda, Mengerti apa arti dunia, hanya dengan sentuhan lembutnya, Ingatkah?, Saat kau menangis, dia beranjak dari mimpi-mimpi masa mudanya, Mencurahkan kehangatan ke setiap ujung kulit yang tuhan berikan, Memancarkan keindahan tak berujung meski termakan usia, Sadarkah kau, Hidupmu tak berarti jika ia menangis, Saat kau bertingkah layaknya oranglain yang tak mengenalnya, Ia, dia menangis di sudut itu, Menangisimu dengan ratapan yang menggetarkan surga, Menggemparkan neraka, Perempuan itu, iya perempuan itu..

Suara-suara

Apa yang kau dengar saat tertidur di buaian, Bisikian?, atau teriakan.. Gelombang yang bergetar itu masih seperti dulu adanya, Ketika adam dan hawa turun ke bumi, menjelajahi ciptaan Nya, Tapi waktu tak merubah getaran itu, Alunan musik sang pengelana dari barat, Dari timur, dan dari segala penjuru, Memenuhi bumi dengan getaran-getaran, Tapi getaran ini lebih tak pernah kalah, getaran ini.. Menggetarkan hati, Menggerakan airmata , Suara-suara itu, suara yang di dengar di segala penjuru dunia, Mengisyaratkan lima waktu berharga dari para pendoa bijaksana, Berlutut diantara langit dan bumi, Mencari keagungan tuhan dan utusannya.

La Beribarat Ki

La.. Lautan dimana seseorang dengan kisaran begitu besar Ki.. Kiasan dari dominasi dunia bertanggung bergelora La.. Bukan untaian dari alfabeth yang bermakna kosong Ki.. Tapi kitab dari pondasi kelompok-kelompok berkuasa La....         Ki...                La..                       Ki.. Bergema menghantam karang dari buih sampai debu Berujung tanggungan tanpa henti berakar pasti La..       Ki..             La..                    Ki.. Jangan remehkan setetes keringat dari sang pengembara Bak tembok cina membentang tak terhapus masa La beribarat Ki Memang tak berarti Tapi berkuasa tanpa disadari Lagukan melodi maestro, Kiasan zeus gagah berwibawa La..       Ki..             La..       ...

Kosong

Berjalan melewati seribu bunga berdaun kaca, Aku termenung menatapi kilauan dunia, Tergores serpihan kelopak bunga yang kuambil, di malam seribu malam Yang menggoresku tanpa isyarat, Aku merintih bagai keledai, kelelahan di padang pasir, Dan terus terulang seperti Andromeda, tertelan loophole jagat raya, Taukah kau, Segores luka bisa mati rasa, Ketika menggoresnya di tempat yang sama, Hingga rintihan anak tertelan derita, tak lagi menggetarkan jiwa. Aku berjalan diantara kebisuan, kegelapan, Tak merasa dingin atau panas, Hanya merasa letih untuk teriak dalam kebisuan Beranjak tak bisa berlari, Berontak tak bisa menghancurkan, Diam malah makin mencekam, Berbisik pada penguasa cahaya pun tak didengar, Lalu sayap-sayapku menghilang Menjadi titik hitam ditengah luasnya kertas putih, Aku menjadi noda yang ditorehkan penjaga takdir, Pada ketidakadaan yang diadakan, Pada keadaan yang harus ditiadakan, Aku masih berontak, Karna kosong.. Menerpaku dikala Kosong......

Hidup?

Dalam megahnya hamparan hijau, aku, musafir diantara para dermawan berjalan sendu, heran dengan tempat yang ku pijak ini, aku bertanya pada pria kecil, iya lusuh, terduduk di pinggiran sungai. "Ini tempat apa?"  Dia menoleh padaku dengan tatapan tajam, seperti elang melihat mangsa di padang pasir, ia berteriak dengan jawabannya yang menggetarkan hati, "ini neraka, tempat dimana orang sepertiku tersiksa, tempat dimana orang sepertiku melahap kesedihan, kepedihan dari dunia tanpa bisa berbuat apa-apa". Aku berlalu, meninggalkan pria itu dengan hati berdebar dan bertanya-tanya, mengapa ia segusar itu sampai-sampai kegusaran di matanya bisa meruntuhkan pondasi raja-raja timur tengah. Aku berjalan melewati tempat kumuh lalu tiba di tempat yang begitu indah, pohon-pohon tumbuh dengan rapi, rumah-rumah megah berjajar, kendaraan beroda empat menghiasi taman-tamannya, aku berkata pada diriku sendiri "apakah ini tempat sang raja?" Kemudian aku bert...