Hidup?

Dalam megahnya hamparan hijau, aku, musafir diantara para dermawan berjalan sendu, heran dengan tempat yang ku pijak ini, aku bertanya pada pria kecil, iya lusuh, terduduk di pinggiran sungai.

"Ini tempat apa?" 

Dia menoleh padaku dengan tatapan tajam, seperti elang melihat mangsa di padang pasir, ia berteriak dengan jawabannya yang menggetarkan hati,

"ini neraka, tempat dimana orang sepertiku tersiksa, tempat dimana orang sepertiku melahap kesedihan, kepedihan dari dunia tanpa bisa berbuat apa-apa".

Aku berlalu, meninggalkan pria itu dengan hati berdebar dan bertanya-tanya, mengapa ia segusar itu sampai-sampai kegusaran di matanya bisa meruntuhkan pondasi raja-raja timur tengah.

Aku berjalan melewati tempat kumuh lalu tiba di tempat yang begitu indah, pohon-pohon tumbuh dengan rapi, rumah-rumah megah berjajar, kendaraan beroda empat menghiasi taman-tamannya, aku berkata pada diriku sendiri

"apakah ini tempat sang raja?"

Kemudian aku bertanya dengan tertunduk hormat pada pria berperut besar dengan bajunya yang megah, "tuan, tempat apakah ini?", kemudian dia menatap ke arah langit dan mulai berbicara dengan sedih.

"ini adalah surga, surga dimana kebohongan sudah seperti udara, yang kita hirup tanpa kita hiraukan adanya, ini adalah surga, dimana saudara adalah lawan, inilah tempat dimana perlombaan egoisme terus berjalan tanpa akhir"

Kemudian pria itu masuk kerumahnya dan terdengar suara tertawa yang begitu keras diiringi suara musik dan lampu berkedip yang terlihat dari tempatku berdiri. Aku beranjak dari tempat itu sambil berfikir, mengapa tempat indah itu begitu mengerikan jika dipahami.

Lalu di pinggiran kota, di tempat yang pepohonannya tumbuh begitu hijau, indah, dan sejuk, aku berpapasan dengan seseorang yang senyumnya begitu memukau, terlihat bahwa dunia nya begitu menakjubkan, kemudian kubertanya padanya.

"tuan, siapakah anda?, mengapa anda terlihat begitu senang?"

Orang itu tersenyum dan mengajak ku duduk di sebuah batu di pinggiran sungai yang airnya begitu jernih, hingga langit pun bisa berkaca pada permukaannya, kemudian ia berkata.

"aku hanya orang biasa, yang berusaha sebaik-baiknya, bersedih secukupnya, berbaik hati sebaik-baiknya, menjauh dari dengki dan nestapa sejauh-jauhnya, dan bersyukur sebaik-baiknya"

Kemudian ia berlalu diantara ternak yang berjalan beriringan, meninggalkan aku yang terduduk, kemudian akupun tersenyum dan berkata pada angin yang perlahan bertiup lembut, melewati sela-sela pepohonan disekitarku.

"hidup ini menakjubkan!".


Komentar