Suara Jiwa

Sore ini aku beranjak dari kota, dalam hiruk pikuk para pekerja, pelajar, beberapa anak kecil juga orangtua, aku duduk tersudut tak jauh dari pintu kereta, yang masih menjerit kelelahan karena seharian telah berlarian membawa takdir, menunggu berjalannya waktu, merasuk ke dunia mimpi dan kenyataan.

Kereta membawaku dengan langkahnya yang gontai, dalam irama decitan roda besi terguyur hujan sore hari, dalam hening, jiwa-jiwa itu terduduk letih, aku terdiam dalam sunyi yang mengurung kesunyian lain di dalamnya, sejenak aku berfikir, bagaimana bisa mereka tak menyadari jiwanya telah ditelanjangi waktu dan keadaan, kehidupannya terlihat dibalik mata sayu dan wajah kantuk, terduduk dalam keheningan.

Dalam hening, ku melihat opera dari kelamnya dunia, saat manusia terikat belenggu takdir, kewajiban dan tanggung jawab, tak sedikitpun senyum terpancar dari jiwa-jiwa malang itu, ku berkata pada diriku sendiri, "apa hanya aku yang mengerti jiwa-jiwa malang itu?, atau hanya imajinasiku yang mengerti kebahagiaan di dalam pilu musim hujan?".

Ku keluar berjalan gontai terengkuh tirai hujan, menghiasi malam kelam di hari ini, dari jauh kulihat sang jiwa tersiksa, tersenyum dengan kehangatan, kehangatan yang menyingkirkan dinginnya sentuhan malam musim hujan, ketika ia kembali, ke tempat dimana ia menjadi seorang ayah, seorang imam, seorang penjaga dari istana megah berselimut kehangatan surgawi.

Kemudian aku tersadar, aku hanya pemikir bodoh yang berbicara pada hantu dari diriku sendiri, dalam keegoisan, dan ramalan dari penyihir awam bermain dibawah sinar rembulan setelah hilangnya hujan, dan terbitnya sang fajar.


Originally Written by :

Ahyar Afal Imanudin

Komentar